Arsenal, Britania Raya Sepenuhnya

Januari 2013Image

 

            Tiga Prancis, tiga Spanyol, dua Belanda, satu Kamerun, satu Jerman, satu Pantai Gading, satu Brasil, dan satu Swiss. 14 Februari 2005 adalah kali pertama sebuah klub Inggris memainkan 11 pemainnya (termasuk pemain cadangan) tanpa seorangpun berkewarganegaraan Inggris. Saat itu Arsenal dikritik oleh berbagai media dan disebut “Arsenal’s United Nations vs Crystal Palace” oleh Daily Mail. Mereka menyebut hal ini sebagai sesuatu yang memalukan dan tidak seharusnya dilakukan karena sama saja menafikan negara tempat dimana liga berlangsung.

Bila kita lihat lagi beberapa waktu sebelumnya Arsenal sebagian besar berisi pemain impor terutama dari Perancis. Datangnya para pemain Perancis/ Liga Perancis ini tak lepas dari pengaruh pelatih legendaris Arsene Wenger yang berasal dari Perancis. Pengetahuannya tentang bakat bakat Perancis tentu saja lebih baik dari pada pengetahuannya mengenai bakat Inggris. Alasan yang kedua adalah mahalnya harga transfer pemain-pemain Inggris yang menurutnya tidak rasional karena harga tidak sebanding dengan kualitas (overrated).

Pada saat itu bukan berarti Arsenal “tidak inggris” karena masih banyak pemain Inggris yang bermain (sebagian besar ada sebelum era Wenger. Setelah pensiun/ berakhir kontrak pemain English Core yang hampir bersamaan (Martin Keown, Tony Adams, Sol Cambell, dan Ray Parlour) Arsenal hanya mempunyai Ashley Cole sebagai satu satunya pemain Inggris di tim utama (yang kemudian pindah ke Chel$ea). Sebelum tahun 2006 Wenger tercatat beberapa kali merekrut pemain Inggris, tetapi dari sekian banyak hanya Sol Cambell yang sukses, sisanya (R Wright, Jeffers, ….) tidak mampu menembus skuad inti. Mereka tidak hanya dianggap pemain biasa tetapi sudah dikategorikan sebagai transfer buruk dan pemain gagal (keluar dari Arsenal karirnya tidak jelas).

Setelah era English Core yang pertama, Wenger merekrut Theo Walcott yang digadang-gadang sebagai pengganti Thierry Henry. Selain sebagai suntikan kualitas, perekrutan Walcott juga untuk mengantisipasi Arsenal without Englishmen. Karena proyek pengembangan pemain muda Arsenal belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Lulusan akademi ini sebagian besar masih belum cukup umur dan lebih banyak menghasilkan pemain berbakat tetapi tidak berkewarganegaraan Inggris.

Memasuki tahun 2010, pemain-pemain hasil akademi Arsenal mulai menunjukkan hasil, kemampuan scouting pemain Britania Rayapun semakin meningkat. Pemain seperti Jack Wilshere, Ramsey, Gibbs dan yang terbaru Jenkinson dan Chamberlain mulai menunjukkan kualitasnya dan dipercaya mengisi skuad inti. Walcott dan Chamberlain adalah hasil didikan akademi Southampton. Ramsey didikan akademi Cardiff City. Jenkinson dari Midlesbrough*. Hanya Wishere dan Gibbs yang murni didikan akademi Arsenal. Kebijakan Arsenal dalam perekrutan pemain juga tak lepas dari adanya peraturan home ground dan non-home ground player2.

Arsenal tidak memasukkan produk akademinya tanpa alasan. Bakat-bakat dari Arsenal telah terbukti kualitasnya karena mampu merebut FA Youth Cup Tahun 2009. Edisi terbaru akademi Arsenal, baik yang berkewarganegaraan Inggris maupun non-Inggris juga semakin baik kualitasnya. Mereka antara lain adalah Chuks Aneke, Frimpong, Yennaris, Miqel (Spanyol), dan Gnabry (Jerman) saat ini beberapa kali memperkuat Arsenal dan sebagian sedang menjalani masa peminjaman dibeberapa klub EPL.

Di bursa transfer Januari ini sepertinya Arsene Wenger lebih puas mengamankan (kontrak) English Core-nya dari pada merekrut pemain baru non Inggris. Ramsey, Gibbs, Chamberlain, Jenkinson telah diikat kontrak jangka panjang. Hanya tersisa Wilshere yang kontraknya “masih” dua setengah tahun. Kemungkinannya dia akan ditawari perpanjangan kontrak musim panas besok. Yang terbaru, Theo Walcott telah setuju untuk memperpanjang kontrak untuk tiga setengah tahun kedepan (Juli 2016).

Perekrutan lebih banyak pemain Inggris Raya juga memiliki keuntungan finansial dan psikologis. Secara finansial Arsenal akan menerima harga transfer pemain yang mahal bila mereka (semoga tidak) minta dijual (pemain Inggris tidak ada yang murah). Secara psikologis pemain Inggris jarang berpindah klub keluar Inggris dan lebih loyal terhadap klub yang dibelanya. Diyakini Wenger sedikit “trauma” dengan rekrutan pemain muda non-Inggrisnya seperti Reyes, Cesc, Nasri, Adebayor, Hleb, Persie, Toure, Clicy yang memilih untuk pindah klub karena alasan uang, trofi ataupun homesick.

Untuk saat ini, Arsenal secara reguler memainkan Wilshere, Gibbs, Walcott, dan Chamberlain secara bersamaan. Hal ini berarti dalam setiap pertandingan Arsenal mampu memainkan minimal tiga orang berkewarganegaraan Inggris. Belum lagi bila Jenkinson dan Ramsey (Wales) juga dimainkan, ini berarti enam pemain Britania Raya, jumlah terbanyak diantara para “Big Four” EPL (Man U, Man City dan Chelsea). Semoga para Arsenal Englishman ini dapat menjadi tulang punggung Arsenal dimasa yang mendatang, dan bolehlah para pemain muda ini kita panggil “Arsene Babes”. Victory Trough Harmony. (woj)

 

Advertisements

6 thoughts on “Arsenal, Britania Raya Sepenuhnya

    • Ada rencana kesana, tapi tidak dalam waktu dekat, mungkin 2/3 bulan lagi. Targetnya nambah tulisan dulu. Next ulasan tentang sponsorship Fly Emirates dan Puma. Thanks for comment 🙂

  1. good review, sudut pandang berbeda dgn tulisan yg pernah aku baca dulu, tentang dna pelaut pemain inggris yg tidak sesuai “arsenal way” tapi skrg monsieur wenger membuktikan itu salah dgn punggawa arsenal asli britania yg main reguler bahkan memegang beberapa caps dinegaranya

Tulis komentar.....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s