Preview Pertandingan: Crystal Palace vs Arsenal

Come on Arsenal

Come on Arsenal

Gagal meraih poin pertama di pekan pembuka kembali diulangi oleh Arsenal saat menjamu West Ham Utd di Emirates stadium. Arsenal takluk 2-0 lewat gol yang dicetak oleh Cheikhou Kouyaté dan Mauro Zarate. Petr Cech yang baru direkrut mendapat sorotan cukup keras padahal pemain Arsenal lain, terutama lini depan juga gagal mengkonversi peluang.

Arsenal memulai pertandingan dengan baik dan menciptakan banyak peluang bagus. Penguasaan bola 62%, akurasi passing 87%, tembakan 22 kali (on target 6) adalah bukti serangan Arsenal bisa mengalir lancar hingga mulut gawang The Hammers. Namun sayang tidak ada yang menjadi gol berkat permainan cemerlang kiper Adrian dan tekel luar biasa dari Ogbona yang membuat Giroud frustasi. Yang saya sesalkan dari pertandingan ini adalah respon pemain terhadap gol Kouyaté dibabak pertama yang meruntuhkan mental anak asuhan Arsene Wenger. Masuknya Sanchez dibabak kedua juga tidak banyak memberikan perubahan karena seperti kita tahu, Sanchez belum terlalu fit.

Pada pertandingan ini saya lebih setuju bila Wenger memainkan Walcott sebagai sayap kanan dibanding Chamberlain. Meski performa Chambo sedang bagus-bagusnya namun soal kematangan dan efisiensi peluang masih kurang. Selain itu Wenger juga membawa Sanchez sebagai cadangan sehingga tidak perlu khawatir bila Walcott kehabisan pertamax (Giroud – bensin) dibabak kedua. Terlepas dari penampilan cemerlang barisan pertahanan West Ham, Giroud harusnya bisa menyempurnakan penyelesaian akhirnya. Dari 5 kali shoot, tidak ada satupun yang menjadi gol.

Bergerak 18 kilometer ke selatan, kali ini Arsenal bertandang ke Selhurst Park markas Crystal Palace. Arsenal memiliki catatan sempurna dalam 5 pertemuan terakhir, namun dalam pertandingan ini ada yang berbeda dibanding 2 pertemuan sebelumnya.

Crystal Palace

Dari tim gurem yang suka yoyo, Palace berubah menjadi tim papan tengah yang cukup stabil sejak ditangani Alan Pardew awal Januari lalu. The Eagles yang diparuh pertama musim berada di zona degradasi berhasil dibawanya finish di peringkat 10. Pardew menjadi pelatih pertama yang bisa melakukan hal ini.Yohan-Cabaye-and-Alan-Pardew

Kesuksesan (kenekatan) Palace mengontrak Pardew ditengah musim setelah sebelumnya membayar kompensasi £3,5 ke Newcastle tak lepas dari keterikatan emosional keduanya. Pardew pernah bermain bersama Crystal Palace diera keemasan klub ini tahun 1987-1991. The Eagles dibawanya duduk di peringkat 3 Divisi Satu (belum ada EPL) dan runner up Piala FA yang menjadi posisi terbaik Palace selama bermain di kasta tertinggi Liga Inggris. Kenangan manis ini diulang dengan menyelamatkan Palace dari jurang degradasi ke peringkat 10 Divisi Utama, posisi klasemen terbaik Crystal Palace sepanjang sejarah EPL.

Memasuki musim baru Pardew melakukan perbaikan di beberapa sektor yang masih lemah. Ketiadaan jendral lapangan tengah sering kali membuat tempo permainan Palace mudah didekte lawan dan kesulitan mencetak gol. Untuk menambal kekurangan tersebut Pardew mendatangkan Johan Cabaye dari yang sering menjadi cadangan di PSG.

Kemampuan Cabaye mengatur serangan sudah tidak diragukan lagi, terbukti dengan seringnya dikaitkan dengan Arsenal dan berakhir di klub penuh bintang, PSG. Pada pekan pertama dia langsung memberikan kontribusi untuk tim dengan 1 gol dan 1 assist.

Pardew juga meng-upgrade kualitas tim dengan mendatangkan striker Connor Wickham dari Sunderland serta perampingan tim dengan melepas pemain-pemain gagal termasuk mantan anggota Arsenal U18, Jerome Thomas.

Pola 4-3-3/4-5-1 menjadi formasi favoritnya dan permainan long ball khas daratan Inggris menjadi gaya permainannya. Hal ini pula yang menjadi alasan Pardew merekrut Wickham yang bertinggi 191 cm sebagai ujung tombak. Palace juga memiliki senjata tersembunyi dalam diri Wilfried Zaha. Saat bertemu Norwich pekan lalu, Zaha menyumbangkan 1 gol dan akurasi passing 100%, sangat mengejutkan untuk tim dengan gaya bermain long ball dan rataan akurasi passing di bawah 80%.

Tactical Analysis

Arsenal tentunya harus belajar dari kesalahan saat melawan West Ham karena calon lawan kali ini memiliki gaya permainan dan efektivitas memanfaatkan peluang yang serupa. Meski trio gelandang Palace lebih offensif dan secara fisik lebih kecil dibanding West Ham, namun mereka adalah gelandang petarung dengan kemampuan merebut bola yang mumpuni. Cabaye tercatat melepaskan 4 tekel sukses dan 4 kali meng-intercept lawan. Untuk mematikannya Ramsey harus bekerja ekstra keras dengan mengikuti kemana dia pergi dan Arsenal lebih baik mengarakan bola jauh-jauh dari area operasi Cabaye.

Sisi luar Crystal Palace dihuni oleh Zaha dan Puncheon, dua pemain sayap dengan gaya bermain yang berbeda. Puncheon lebih banyak melepaskan umpan silang dan tembakan ke dalam kota pinalti sedangkan Zaha dengan dribble-nya lebih banyak melakukan penetrasi ke dalam kotak (musim lalu dibuat tak berkutik oleh Monreal).

Arsenal tak akan mudah menembus pertahanan Palace bila menyerang melalui tengah karena disana ada Jedinak yang siap menghadang dengan tekel-tekel kerasnya. Namun akan menjadi sebuah keuntungan bila Ozil atau Cazorla bisa melewatinya karena duet Delaney dan Scott Dann dijantung pertahanan lebih susah di taklukkan melalui bola udara dibandingkan melalui umpan 1-2 pemain. Pertahanan rapat dan jauh ke bawah akan menjadi masalah Arsenal bila mau memanfaatkan kecepatan Walcott atau Sanchez. Satu-satunya cara adalah keduanya melakukan tusukan kedalam kotak dan pergerakan aktif dari Giroud serta Ramsey yang menyusul ke depan. Wenger juga bisa memainkan Sanchez, Walcott, Chamberlain yang unggul dalam hal kecepatan sebagai opsi lain.

Arsenal memiliki pengalaman awal musim yang sama seperti saat kalah 3-1 atas Aston Villa di pertandingan pembuka 2 tahun lalu. Respon yang baik dilakukan pemain-pemain Arsenal setelahnya dengan menang atas Fulham, Tottenham, Sunderland, Swansea, dan Stoke City serta tak terkalahkan hingga 1 bulan berikutnya.

Akan menjadi pertandingan yang alot bagi Arsenal mengingat moral tinggi The Eagles. Dua dari tiga kemenangan Arsenal atas Palace diraih saat tim diasuh oleh caretaker Keith Millen karena pelatih Palace selalu dipecat seminggu sebelum bertemu Arsenal. Kesabaran dan kewaspadaan hingga akhir diperlukan dalam pertandingan malam nanti karena Arsenal belum pernah mencetak gol melalui open play dibawah menit ke 45 saat bertemu Crystal Palace. Dilain pihak, Palace selalu bisa mencetak 1 gol ke gawang Arsenal, dengan hadirnya Cabaye hal ini tidak mustahil akan bertambah. Petr Chech akan berusaha keras untuk membuktikan kualitasnya dan melupakan mimpi buruk dipertandingan pertama seperti yang dia tulis melalui akun twitter resminya. (woj)

Back to work Have a good afternoon everyone … “What doesn’t kill you , makes you stronger !” – @PetrCech

Team news

Crystal Palace: Julian Speroni, Fraizzer Campbell, Kwasi Appiah, Marouane Chamakh

Arsenal: Rosicky (lutut, 22 Agustus), Welbeck (lutut, 22 Agustus), Wilshere (retak tulang engkel, 12 September).

Crystal Palace (4-5-1): McCarthy – Ward, Dann, Delaney, Souare – Puncheon, McArthur, Jedinak, Cabaye, Zaha – Wickham.

Cadangan: Hennessey, Kelly, Bolaise, Mutch, Bamford, Gayle, Murray.

Arsenal (4-2-3-1): Cech – Bellerin, Koscielny, Mertesacker, Monreal – Coquelin, Ramsey – Ozil, Cazorla, Sanchez – Giroud.

Cadangan: Martinez, Debuchy, Paulista, Gibbs, Chamberlain, Arteta, Walcott.

Advertisements

Tulis komentar.....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s