Olahan The Red Devil’s “Wine”

GettyImages-491299726

Dear MY,

Sudah 2 musim dan berjalan musim ke tiga Manchester United belum juga membuka tutup Champagne sebagai tanda perayaan sebuah gelar. Dan penantian anak-anak generasi Z akan berlangsung lebih lama dari yang pernah mereka rasakan.

Untuk diingat kembali, satu-satunya gelar yang diraih The Red Devils selepas era Ferguson adalah “piring” Community Shield pada awal musim 2013 bersama David Moyes. Pada era Ferguson, penantian yang berujung gelar terlama adalah 4 tahun yang hanya pernah “dibaca” oleh bapak-bapak generasi X karena disaat itu belum ada siaran langsung Liga Inggis (siaran pertama oleh SCTV tahun 1992).

Dalam 3 musim berjalan ini, Man Utd telah berganti pelatih sebanyak tiga kali (termasuk Giggs). David Moyes yang ditunjuk sebagai “The Chosen One” kurang bisa memenuhi ekspektasi suporter, Giggs pun tidak mampu mengerek MU dari peringkat 7 dalam 4 pertandingan tersisa.

Musim lalu van Gaal mampu membawa timnya ke zona Champion dengan tambahan 6 poin dibanding musim sebelumnya. Hasil akir musim pertama ini tak jauh beda dengan data statistik yang menunjukkan van Gaal 10-20% lebih baik dibanding Moyes.

Untungnya perbaikan skuad asuhan van Gaal menunjukkan hasil positif. Dalam 10 pertandingan awal, Wayne Rooney dan kawan-kawan berhasil mengumpulkan 7 poin lebih banyak dibandig musil lalu. Namun cukupkah raihan ini untuk mengantarkan MU juara?

Disaat MU mengalami peningkatan, jangan lupa juga bahwa pesaing mereka telah memperkuat diri. Man City dan Arsenal masing-masing sudah meningkat 2 dan 5 poin dbanding musim lalu. Bisa diartikan peningkatan 7 poin masih sangat jauh dari kebutuhan +17-18 poin untuk modal persaingan juara bila para rival sudah menaikan standar poin minimal untuk berpartisispasi dalam kompetisi paling ketat didunia ini.

Berbicara soal klub tak bisa dilepaskan dari siapa manajernya karena sosok ini yang paling berpengaruh dalam membawa kemajuan klub. Van Gaal dikenal sebagai pelatih bermodal disiplin tinggi terutama dalam sistem permainan. Tidak ada kata “reaktif” dalam buku strategi LvG, tim lawanlah yang dipaksa menyesuaiakan dengan taktik timnya.

Stategi possesion football mengakomodasi filosofi LvG karena membuat lawan lebih banyak menonton MU menguasai bola. Namun akan berakhir bencana bila tim lawan memberontak dan lebih aktif serta efisien saat menguasai bola meski dengan penguasaan bola yang lebih sedikit.

Garis pertahahan Man Utd.

Garis pertahahan Man Utd.

Bisa dilihat bagaimana Man Utd kalah dari Swansea, PSV, dan Arsenal. Ketiga klub ini hanya menguasai bola 35% namun mampu menciptakan peluang berbahaya yang sama banyaknya dengan Man Utd. Garis pertahanan yang tinggi untuk mendukung penerapan possesioan football membuat lini belakang terekspos dan rentan diserang balik. Terlebih lagi Van Gaal mengistruksikan bek sayap melakukan penetrasi jauh hingga ke depan.

Kekakuan stategi van Gaal tercermin dari komentarnya seusai pertandingan dimana setengah dari pemain starter lawan Arsenal tidak bermain sesuai skema awal yang telah disepakati.

“No, because it was not only one player, then I could have taken action, But it was more than half of my team, I think, that weren’t doing what we agreed in our game plan.” – Van Gaal

Bukankan ini berarti dia tidak memiliki persiapan manakala skenario tidak berjalan sesuai rencana? Ketidakmampuannya mengelola pemberontakan tim lawan sama dengan metodenya totaliter dalam melatih dan menjalankan tim. Tidak ada plan B, apalagi plan C a.k.a creativity dari pemain hingga Paul Scholes pun tak berminat bermain dibawah arahan LvG.

“There’s a lack of creativity and risk. It seems he (Van Gaal) doesn’t want players to beat men and it’s probably not a team I’d have enjoyed playing in.” – Paul Scholes

Meski begitu Scholes percaya sistem permaianan terorganisisr yang dijalankan Van Gaal bisa menjadi dasar menyatukan muka-muka baru. Menurut Scholes, menciptakan kreatifitas dan produktifitas tim adalah hal yang tersulit dilakukan oleh seorang pelatih.

Dua musim pertama Van Gaal adalah masa tersuksesnya menangani sebuah klub. Van Gaal selalu berhenti pada akhir kontak tahun ketiganya karena penurunan performa seperti yang terjadi saat di Barcelona (1997-2000) dan Bayern Munich (2009-2012). Hanya bersama AZ Alkmaar, klub terakhirnya sebagai pemain ini berhasil dihantarkan meraih gelar juara Eredivisie 2008/09.

Kelebihan dari van Gaal adalah kepercayaannnya memainkan pemain muda. LvG percaya pada bakat-bakat muda akademi Man Utd seperti Jesse Lingard, James Wilson dan Patrick McNair. Keyakinannya saat memberikan Martial yang masih hijau sempat ditertawakan oleh banyak orang, namun striker muda Perancis ini menjawabnya lewat 3 gol dalam 6 penampilan.

Seperti peran LvG di klub-klub sebelumnya, dia diproyeksikan memberikan dasar untuk Man Utd kedepannya. Lihat bagaimana hebatnya Barcelona dan Bayern Munich selepas kepergian LvG. Jangan lupa bahwa meneer Belanda juga yang memberi kepercayaan pada Xavi Henandez, Iniesta, Puyol, Toni Kroos dan Thomas Muller sehingga menjadi pemain bintang. Dalam 3 tahun kontraknya bersama Man Utd diharapkan Van Gaal mampu menciptakan keajaiban sama seperti yang terjadi pada proses fermentasi Champagne hingga sering disebut The Devil’s Wine.

Manchester United tertolong oleh jumlah kebobolan yang terpangkas hampir 50% dari musim lalu, The Red Devils mampu menghasilkan kemenangan lebih banyak dengan gol memasukkan yang lebih sedikit.

Rataan penguasaan bola hampir 60% dan akurasi operan 85% tiap pertandinggan membuktikan gelandang MU tak kalah bagusnya dengan para defender. Bola mengalir lancar untuk didistribusikan menjadi serangan menghasilkan 10 tembakan per pertandingan.

Lain halnya dengan lini depan, masalah yang belum terselesaikan sejak van Gaal menjabat. Kehilangan striker sekelas Van Persie secara konsistensi belum bisa digantikan oleh Martial atau Depay. Terlihat dari capaian gol Man Utd yang menurun dibanding 10 pertandingan awal musim lalu. Enam dari 10 pertandingan musim ini Man Utd hanya menciptakan 3 gol.

WayneRooney

Performa Wayne Rooney di lini depan kian menurun tiap musimnya. Senioritas, jabatan sebagai kapten tim dan pergeseran posisi dipercaya membuat dia kurang fokus dalam membobol gawang lawan. Bila dulu Rooney digeser sebagai second striker hingga kehilangan insting membunuhnya, kini dia bermain lebih kebelakang dan diberikan tanggung jawab bertahan saat tim kehilangan bola.

Gaya permainan Man Utd yang cenderung lambat dan striker utama kurang berpengalaman untuk ukuran EPL masih akan terus menjadi permasalah utama produktivitas tim hingga akhir musim nanti. Kecuali bila LvG memutuskan membeli pemain baru di bursa transfer Januari. Permasalahannya adalah tidak ada striker top yang tersedia di bursa transfer terutama menjelang bergulirnya Piala Eropa. Pemain mana yang mau kemapanannya terusik yang bisa menganggu peluang tampil memeperkuat tim nasional masing-masing.

Melihat kondisi liga yang susah diprediksi, Chelsea yang mantan juara terjerembab di papan bawah klasemen, West Ham yang mampu menghancurkan klub-klub papan atas serta konsistensi permainan Leichester, Alex Ferguson menilai Man Utd masih tetap berpeluang meraih gelar juara. Bila syarat Man Utd bisa tetap di papan atas saat Natal, maka peluang juara akan cukup besar. Namun Fergie juga sadar bahwa menyatukan setengah lusin pemain baru bukanlah pekerjaan mudah. Dalam 1,5 tahun, anggur-anggur yang diolah baru ditahap memunculkan citarasanya namun belum bisa dinikmati. Pada tahap ini gambaran hasil akhir mulai terlihat.

Kegagalan Man Utd mengalahkan dua rival utamanya, Man City dan Arsenal, akan sangat berpengaruh di klasemen. Saya perkirakan, komposisi akhir persaingan juara tidak jauh berbeda dari kondisi saat ini dan kemungkinan akan berujung dengan selisih poin yang sangat ketat.

Sepertinya botol Champagne United belum bisa dinikmati dalam waktu dekat. Agar sempurna, butuh waktu tiga tahun untuk memfermentasikan anggur, mengeluarkan rasanya serta menghasilkan jumlah gelembung yang tepat. Van Gaal ditugaskan untuk memilih dan mengolah anggur yang tepat sebelum disajikan sebagai Champagne dengan “crown” cap. Hanya anggur-anggur terbaik yang akan dinamai sesuai tahunnya. (woj)

Advertisements

One thought on “Olahan The Red Devil’s “Wine”

  1. Pingback: Belum Didengar, Tak Berarti Kadaluarsa | Shenley Ground

Tulis komentar.....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s