Coba Ingat Komentar Miringmu

2CA7DE5800000578-3336772-image-m-15_1448651651912

Apakah ada yang familiar dengan wajah-wajah ini 2-3 tahun yang lalu? Satupun saya rasa tidak.

Nama yang dikenal dalam anggota skuad tim ini paling hanya Marc Albrighton yang lama membela Aston Villa, Robeth Huth mantan pemain Chelsea dan Stoke atau Kasper Schmeichel berkat nama besar ayahnya. Itupun bila kalian benar-benar memperhatikan tim dan peran kecil di klub yang pernah mereka bela.

Namun siapa yang tak terpesona dengan prestasi Leicester City di Premier League musim ini. Sejak pekan ke 11 mereka tak pernah keluar dari tiga besar, padahal pada pekan sebelumnya The Foxes julukan Leicester City hanya berada di peringkat 5 klasemen.

Sudah 25 pertandingan berjalan atau 2/3 pertandingan Liga, anak asuhan Claudio Renieri kokoh duduk di peringkat pertama dengan jarak 5 poin dari tim peringkat kedua.

Musim ini menjadi salah satu musim yang penuh dengan ketidak pastian terutama bagi tim yang memiliki konflik internal. Chelsea yang bermasalah dengan Maourinho, Man United yang gagal berkembang dengan startegi van Gaal, dan Liverpool yang masih beradaptasi dengan gaya bermain Jurgen Kloop.

Kebalikannya bagi tim-tim yang kondisi internalnya harmonis, seperti mendapat durian runtuh berkat performa labil tim-tim yang sering menjadi penghalang mereka. Arsenal tak pernah keluar dari empat besar dan Tottenham Hotspurs yang jarang-jarang berada di papan atas, kini performanya stabil karena kesabarannya menunggu hasil tangan dingin Pochettino.

Bila saja Man City tidak diganggu oleh cedera Aguero dan Kompany saya rasa akan bisa duduk lebih tinggi dari peringkatnya sekarang.

Dari tim-tim yang mapan di Premier League tersebut tiba-tiba muncul Leicester City, tim wakil wilayah Midland yang berhasil mengangkangi hegemoni Liverpool, Man Utd, Arsenal, Man City ataupun Spurs untuk menjadi calon kuat juara Liga Inggris musim 2015-16.

Musim lalu Leicester City menghabiskan 2/3 musim di zona degradasi dan 1/3 sisanya sibuk menyelamatkan diri keluar dari zona degradasi. Siapa yang tidak kaget? Ataum malah terpesona dan menjadi simpati?

Mungkin saat ini lebih dari setengah penggemar Liga Inggris menjadi pendukung Leicester menjadi juara. Chelsea, Liverpool dan Man Utd yang memiliki basis massa yang besar, ditambah suporter 13 klub Liga Premier lainnya. Hanya Man City, Spurs, dan Arsenal yang masih mendukung timnya masing-masing, namun tak jarang suporter ketiga klub ini juga berpindah haluan mendukung Leicester saat timnya mlempem.

Dukungan tak kentara ini mampu menyuntik semangat The Foxes untuk merebut gelar Premier League pertama sepanjang sejarah klub.

Bila suporter Chelsea, Man Utd, dan Liverpool mendukung Leicester karena tak ingin suporter klub rival bergembira, pendukung 13 klub EPL lainnya ingin membuktikan bahwah di liga termahal dunia ini uang bukan segalanya. Kombinasi tim yang harmonis, pembelian pemain, dan racikan pelatih yang tepat maka gelar juara bukanlah hal yang mustahil.

Leicester adalah contoh fantastis dimana sepakbola tidak sekedar membelanjakan uang. –Arsene Wenger

Pekan lalu, starting XI Man City seharga £228.6 juta menyerah 3-1 pada Leicester yang 11 pemain starternya hanya bernilai total £16.6 juta. Pada pertemuan pertamapun The Foxes mampu menahan The Citizen 0-0 hanya dengan pemain yang bernilai >10% dari tim lawan

Kini kita akan teringat sering berkomentar kenapa tidak membeli pemain ini, kenapa tidak merekrut penyerang itu, dan diwaktu berikutnya kita juga mulai memuja Leicester yang hanya bermodal pemain “murah” namun berhasil mendominasi liga.

Kelajutan petualangan indah Leicester dan suporternya masih harus dibuktikan hingga 13 pertandingan tersisa. Bila anak asuhan Claudio Ranieri ini masih duduk di peringkat pertama liga maka korelasi dana transfer berding lurus dengan gelar  Premier League akan terpatahkan.

Kisah Leicester ini akan mengulangi sejarah Blackburn Rovers 11 musim lalu saat mereka berhasil mencuri gelar EPL dari Man Utd yang pada dekade sebelumnya mengusai Liga Inggris bersama Arsenal dan Liverpool.

Ataukah Leicester City hanya replikasi Bayer Leverkusen di Liga inggris. Pada musim 1995-96 Leverkusen hampir terdegradasi dan dimusim 1996/97 Leverkusen menjelma menjadi tim kuat di Bundesliga hingga lima musim berikutnya. Namun sayang, mereka selalu menjadi runner up dan lemari klub tak pernah terisi oleh gelar Bundesliga hingga mereka mendapatkan julukan Neverkusen karena selalu hampir tadi.

Leicester memiliki sejarah yang mirip dengan koleksi 4 runner up Piala FA dan menjadi klub yang paling sering kalah di final tanpa berhasil meraih 1 gelar pun. (woj)

 

 

 

Advertisements

One thought on “Coba Ingat Komentar Miringmu

  1. Pingback: Preview Pertandingan: Arsenal vs Leicester City | Shenley Ground

Tulis komentar.....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s