Preview Pertandingan : Tottenham Hotspurs vs Arsenal

 

arsenal-gq-06feb15-rex-b-1083x658b18b

Cari tempat sana!

Edisi ke 183 North London Derby, Arsenal bertandang ke markas musuh bebuyutan, Tottenham Hospurs pada hari Sabtu, 5 Maret 2016.

Jarang kita temui North London Deby dengan tema perebutan juara seperti pertemuan pekan ke 28 Barclays Premier League kali ini. Arsenal dan Spurs hanya berselisih 6 dan 3 poin dengan Leicester yang kokoh di puncak klasemen sementara EPL.

Hasil akhir pertandingan ini sangat menentukan langkah mengejar ketertinggalan poin dari pimpinan klasemen sementara. Pertandingan dua tim papan atas ini teramat penting bagaikan “fit and proper test” untuk emnentukan siapa siapa yang dapat terus berlari dalam 10 pekan berikutnya.

Sepuluh pertandingan akhir pernah saya gambarkan dalam “Sprint or Racewalking” dua tahun lalu. Semua sudah bisa dibaca dan kalian tahu dimana kita menyelesaikan liga dua tahun lalu.

Anak asuhan Arsene Wenger babak belur dan terluka tak pernah menang dalam  pertandingan terakhir, tiga diantaranya kalah.

Sedangkan tetangga kita, Tottenham Hotspurs melaju kencang hingga dengan 6 kemenangan beruntun dan telah mengkudeta posisi Arsenal sejak 4 pekan lalu. Untung saja kereta cepat mereka tertahan oleh West Ham United sehingga jarak dengan Arsenal yang kalah lawan Swansea tetap terjaga di angka 3 poin.

Revolusi Pochettino

Penantian Tottenham Hotspur mulai membuahkan hasil di tahun kedua bersama Pochettino. Hal yang jarang mereka bisa masuk bursa taruhan juara pada 1/3 akhir liga. Penampilan konsisten mereka musim ini dimulai sejak lepas pekan ke 10 dengan stabil menduduki peringkat 5, posisi akhir klasemen mereka musim lalu.

Perbaikan yang terus dilakukan membuat Spurs mampu menembus barier posisi musim lalu dan bergerak perlahan ke peringkat 4 di pekan ke 17 sebelum akhirnya merangsek ke peringkat 2 sejak pekan ke 25.

Pochettino menerapkan strategi 4-2-3-1 yang sudah dikuasai sejak awal memulai karir kepelatihan bersama Espanyol tahun 2009. Formasi yang awalnya diperkenalkan oleh Mourinho bertipe defensif namun Pochettino mengaplikasikan formasi ini dengan tambahan pressing offensif sejak bola di wilayah lawan yang dia ambil dari metode kepelatihan Marcelo Bielsa. Serupa seperti yang diterapakan oleh Juergen Kloop bersama Dortmund.

Setahun membangun fondasi fisik yang menjadi dasar strategi ini, Pochettino dan anak asuhannya mulai tersenyum dengan capaian mereka musim ini.

Banyak pemain yang mengeluh kala pertama ditangani oleh Pochettino. Ben Davies mengatakan berlatih bersama Timnas Wales atau Swansea seperti liburan baginya. Jack Cork mengatakan butuh dua jantung untuk bsa mengikuti gaya Pochettino (semasa di Southampton). Namun pada akhirnya mereka merasa permainannya bisa berkembang.

He’d have us pressing high, keeping a high line, receiving the ball in difficult situations, keeping possession and basically having the confidence to play football rather than being afraid – he took my game to another level – Nathaniel Clyne

High Pressing

Hanya bisa dikalahkan dengan fisik pemain (lebih) yang bagus. Lebih mempressure lawan, memanfaatkan lebar lapangan, dan mempertahankan penguasaan bola di wilayah lawan.

Pada laga lawan MU dan Barca pemain Arsenal tampak kelelahan dan kurang motivasi dalam melakukan pressure. Terlihat dari usaha merebut bola hanya 16 kali, dibawah rata-rata musim ini sebanyak 19 kali tekel. Tiga gol yang berhasil diciptakan tidak bisa dirawat oleh enam pemain terakhir Arsenal sehingga kebobolan 7 gol dalam 3 pertandingan terakhir.

Pressure pemain-pemain The Gunners sudah membaik dengan 28 tekel dan 3 tembakan yang menghantam gawang meski akhirnya harus takluk 2-1 lawan Swansea.

Pada pertemuan pertama, Spurs menahan imbang Arsenal dengan skor 1-1. Arsenal cukup tertekan di babak pertama menghadapi tekanan The Lilywhites. Dibabak kedua Kierran Gibbs yang tak terjaga mampu memecah kebuntuan.

Spurs sering kedodoran pada babak kedua akibat kurang mampu mengontrol tempo mereka. 65% dari 22 gol ke gawang Hugo Lloris terjadi selepas menit 40. Man City, Leicester, Crystal Palace, dan Newcastle total membobol 5 gol pada periode ini.

The Game Plan

Memainkan bola secara melebar akan lebih menguras energi Spurs dalam melakukan Pressing. Arsenal memiliki stok pemain yang cukup untuk memainkan strategi ini.

Saya sebenarnya lebih menyukai Sanchez bermain dikanan dengan dan sesekali berpindah ke kiri. Kondisi tanpa gol dalam 6 pertandingan sejak kembali dari cedera sudah terlalu lama bagi pemain yang menjadi tumpuan harapan memecah kebuntuan tim. Penjagaan yang ketat minimal dua pemain membuatnya kesulitan melepas tembakan akurat bila beroperasi di kiri. Kebuntuan ini bisa di pecahkan dengan memindahnya ke kanan untuk memberikan umpan matang dengan kaki kanannya.

Giroud kekurangan suplai bola karena Campbell yang berkaki kiri diletakkan di kanan dan Sanchez yang kaki kanan diletakkan di kiri sehingga suplai bola yang diterima hanya berasal dari Monreal dan Bellerin. Positifnya kedua pemain sayap menambah ancaman bagi gawang laman tetapi strategi ini juga mengharuskan kedua bek sayap melakukan overlapping yang berpotensi memperlemah pertahanan.

Memang tiap strategi memiliki keungulan dan kelemahan. Dibabak pertama Wenger bisa bermain defensif dengan memainkan Sanchez dan Campbell di posisi pengumpan. Dibabak kedua (dengan harapan tenaga Spurs terkuras dan lini belakang bermain solid), kedua pemain bertukar posisi untuk menambah daya gedor. Sulit bila Arsenal mencoba menembus Sp*rs dari tengah. (woj)

We now have to do 98 per cent of things right and then add the two per cent of things that are down. Then we can rediscover our collective qualities and put even more effort in. – Arsene Wenger

 

Team News

Tottenham Hotspurs : Dembele (groin, diragukan), Verthongen (lutut, 2 April), N’Jie (lutut).

Arsenal : Cech (groin, 12 Maret), Koscielny (betis, 12 Maret), Jenkinson (lutut, 2 April), Cazorla (lutut, 2 April), Wilshere (engkel, April), Rosicky (lutut, sampai kontrak habis).

Tottenham Hotspurs (4-2-3-1) : Lloris – Walker, Alderweireld, Wimmer, Rose – Dier, Dembele – Son, Eriksen, Alli – Kane

Cadangan : Vorm, Davies, Trippier, Caroll, Chadli, Lamela, Mason.

Arsenal (4-2-3-1) : Ospina – Bellerin, Mertesacker, Gabriel, Monreal – Ramsey, Coquelin – Sanchez, Ozil, Campbell – Giroud

Cadangan : Huddart, Chambers, Gibbs, Elneny, Flamini, Walcott, Welbeck.

 

Advertisements

Tulis komentar.....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s