Angin Ketidakpastian

old wenger

Jonker dan Ljunberg secara hampir bersamaan memutuskan untuk undur dari jabatan masing-masing di akademi Arsenal pada akhir musim 2016/17 membuat suporter was-was dengan situasi internal klub. Hal ini ditambah dengan gagal lolosnya Arsenal ke Liga Champion 2017/18 dan tidak ada perayaan St. Totteringham Day untuk pertama kali di era Wenger.

Kontrak Wenger yang berakhir musim ini (sebelum diperpanjang) membuat isu perubahan besar akan terjadi dalam waktu dekat. Menurut survey yang diadakan oleh Arsenal Supporter Trust, 78% anggota berpendapat inilah saat yang tepat untuk perubahan itu.

Beberapa pelatih top Eropa sudah digadang-gadang oleh The Gooners untuk melatih Arsenal musim depan. Status Luis Enriqe dan Thomas Thucel yang menganggur di akhir musim diibaratkan seperti jalan takdir untuk melengkapi angan perubahan.

Ternyata manajemen berkeyakinan lain, mereka memutuskan untuk memperbaharui kontrak Arsene Wenger hingga musim 2018/19 dengan pertimbangan kontribusi dan “terlanjur nyaman”. Apakah ini benar yang disebut Kroenke sebagai ambisi klub? 12 tahun gagal juara EPL dan sekedar pelengkap kompetisi Eropa.

Kita tentunya tak akan melupakan apa yang pernah diberikan Wenger untuk Red and White Army. Tiga gelar EPL dan 7 Piala FA plus 6 Community Shield menjadikannya

Distance beetwen Arsenal and title winers

Sumber: bbc.com

manajer tersukses yang pernah menangani Arsenal.

Namun disaat yang sama kita juga memelihat Arsenal yang gitu-gitu saja. Cedera pemain yang mengganggu performa tim (sedikit membaik sejak kedatangan pelatih fisik jerman), menit pergantian pemain yang kita hafal diluar kepala, hingga kurangnya kemampuan meminta uang lebih untuk membeli pemain.

 

Dari statistik pun terlihat bulan-bulan apa saja Arsenal mengalami pernurunan perolehan poin dan ini tak pernah dapat diperbaiki oleh Wenger. Mungkin kurva performa kepelatihannya juga seperti yang digambarkan dalam statistik tersebut.

Kehilangan Kemewahan

Peningkatan peringkat satu demi satu tingkat tanpa sadar membuat kita terlena. Dimusim 2016/17 peringkat Arsenal anjlok ke posisi 5 klasemen akhir yang berujung pada lepasnya tiket ke Liga Champion.

Hilangnya jadwal UCL di agenda Arsenal musim depan sama juga kehilangan £40-50 juta potensi pendapatan. Nilai yang besar bila di investasikan ke skuad. Selain kehilangan pendapatan, Arsenal juga dipaksa mengeluarkan dana lebih besar untuk merekrut dan menggaji pemain baru karena kehilangan nilai tawar akibat tidak bermain di kompetisi elit Eropa. Pemasukan yang mungkin didapat dari Europa League nanti hanya berkisar £ 15-20 juta.

Pembelian pemain mahal memang bukan segalanya, sebagai contoh Pochettino yang mampu mengubah tim yang hanya bergaji £ 100 juta (urutan 6 di liga) bisa finis di peringkat 2 klasemen melampaui tim-tim dengan gaji di atasnya. Dengan skuad yang bisa dibilang seadanya (karena tanpa pemebelian pemain bintang), dia mampu konsisten masuk 4 besar dalam dua musim terakhir.

Perlu Semangat Baru

Dua puluh tahun bersama Wenger tentu bukan waktu yang singkat. Hanya Sir Alex Ferguson pelatih Man Utd di era modern ini yang lebih panjang dari masa kepelatihan Wenger.

Arsenal perlu sebuah perubahan meliputi semangat, etos kerja pemain, taktik di lapangan dan strategi perekrutan pemain. Tak perlu malu untuk membeli pemain mahal karena kini harga pemain memang semakin mahal seiring bertambah besarnya kapitalisasi uang di industri sepak bola. Sulit mencari pemain berbakat di era moderen dimana setiap tim pencari bakat memiliki database yang lengkap dibanding awal tahun 2000-an.

Ubah mind set Arsenal miskin karena kenyataannya Arsenal selalu masuk 10 besar tim terkaya. Hutang Arsenal juga tak begitu besar bila dibanding aset.

Beberapa tahun terakhir, terhitung sejak pembaharuan kontrak Puma dan Fly Emirates, nilai pembelian Arsenal mengalami peningkatan. Wenger membeli pemain dengan harga yang sebelumnya tak pernah kita bayangkan. Setiap musim selalu ada pemecahan rekor pembelian, 5 pemain termahal Arsenal dibeli dalam kurun 3 tahun belakangan.

Kata-kata Wenger yang menilai seorang pemain terlalu mahal adalah relatif. Bila pemain target menambah kualitas tim, berapapun harganya sebaiknya di beli. Bukan malah merekrut down grade-nya karena lebih berpotensi menambah beban keuangan. Ataukah Wenger tidak terlalu yakin dengan pemain incarannya? Tapi kenapa terpaksa beli downgrade-nya?

Daripada mengumpulkan banyak pemain kelas menengah, lebih baik memiliki 6-7 pemain top dalam tim karena beban total gajinya tak berselisih terlampau banyak namun kemungkinan outputnya akan berbeda.

Industri sepakbola sekarang sudah berubah, Harga pemain bagus meningkat berkali lipat. Manajer seharusnya tak perlu ikut risau memikirkan kondisi keuangan klub karena target utamanya adalah menyusun dan membawa tim meraih gelar. Berhentilah sok campur tangan karena sudah ada direktur/bagian keuangan yang mengurus hal diluar lapangan seperti ini.

Wenger masih di Arsenal untuk dua tahun ke depan, tak banyak harapan saya selain semoga Arsenal kembali masuk Zona Champion. Soal juara, kita lihat saja kesalahan dan template performa Arsenal dimusim mendatang sama atau tidak mengacu ke statistik poin Arsenal yang sudah menjadi hand out wajib setiap analis bola. Mohon beri kami semangat dengan bahasan baru. (woj)

 

 

Advertisements